Penghasilan Influencer Anjlok Drastis, Era Kreator Besar Diprediksi Bakal Berakhir
EKONOMISIA.com – Gelombang penurunan penghasilan influencer di Amerika Serikat kini menjadi bahan diskusi hangat di kalangan pelaku industri konten digital. Sejumlah kreator dengan jutaan pengikut mengaku pendapatan mereka anjlok drastis dalam setahun terakhir, seiring merosotnya jumlah tayangan atau view di berbagai platform media sosial.
Fenomena ini pertama kali dikupas oleh Leo Giovanni, seorang YouTuber sekaligus praktisi afiliasi digital, melalui kanal pribadinya.
Menurut Leo, tren yang terjadi di Amerika Serikat kerap menjadi indikator awal bagi apa yang akan berlangsung di Indonesia beberapa tahun kemudian, sama seperti pola booming YouTuber maupun tren celebrity boxing yang lebih dulu meledak di Negeri Paman Sam.
Penurunan pendapatan ini tidak berdiri sendiri. AdSense sebagai salah satu sumber utama cuan kreator langsung tergerus begitu jumlah view merosot. Kondisi diperparah oleh sikap brand yang mulai selektif memilih mitra endorsement.
Baca juga: 5 Fakta Kejatuhan Teknologi Jepang dari Panggung Smartphone Dunia
Ketika seorang influencer sebelumnya sanggup mendulang jutaan tayangan namun kini hanya meraih sebagian kecil dari angka tersebut, wajar jika perusahaan mempertimbangkan ulang nilai kerja sama tersebut.

Masalah kian rumit ketika gaya hidup para kreator sudah telanjur naik kelas di masa jaya. Rumah mewah dan cicilan jangka panjang yang dulu terasa ringan berkat penghasilan ratusan ribu dolar per bulan, kini menjadi beban berat saat pemasukan menyusut.
Salah satu kasus yang diungkap Leo adalah seorang kreator yang sukses besar pada 2019, namun pada 2026 justru kesulitan membayar cicilan mansion yang dibelinya di masa puncak popularitas.
Penyebab Penghasilan Influencer Turun
Ada dua faktor besar yang memicu keruntuhan ini. Pertama, banyak influencer gagal tumbuh bersama audiensnya. Konten DIY yang digandrungi remaja usia 16β18 tahun pada 2019, misalnya, kehilangan penonton begitu segmen usia tersebut kini menginjak 25 tahun dan sibuk bekerja.
Baca juga :Β 3 Kunci Hidup Sederhana Ini Bikin Rumah Tangga Makin Tenteram
Kedua, perubahan algoritma platform seperti Instagram dan TikTok membuat jumlah followers tak lagi menjamin jangkauan konten.
Sistem kini lebih mengutamakan daya tarik tiap unggahan ketimbang basis pengikut, sehingga video dari akun kecil pun berpeluang tembus ke FYP jutaan pengguna nonfollower.
Pergeseran algoritma inilah yang membuka jalan bagi micro creator dan UGC creator. Kreator dengan pengikut ratusan hingga ribuan kini bisa meraup jutaan view asal kontennya dinilai menarik oleh sistem, sebuah peluang yang dulu nyaris mustahil didapat tanpa basis pengikut besar.
Menghadapi tekanan ini, Leo menyarankan tiga langkah bagi influencer besar: berani mengeksplorasi angle konten baru, memperluas distribusi lewat akun clipper yang membuat potongan video, dan meninggalkan star syndrome dengan bersikap profesional layaknya pekerja korporat saat bermitra dengan brand.
Baca juga: Keajaiban Ekonomi Jerman: Dari Puing Perang ke Raksasa Industri Eropa
Sementara bagi micro creator, dua kunci bertahan adalah menjaga kedekatan dengan komunitas dan mengedepankan autentisitas. Tren konten hidup mewah yang serba dipoles kini mulai ditinggalkan, digantikan ketertarikan audiens pada cerita perjuangan nyata di balik sebuah pencapaian.
Pertanyaannya kini, apakah pola yang terjadi di Amerika Serikat akan menular ke industri konten Tanah Air? Jika tren memang selalu bergerak dari barat ke timur seperti yang selama ini terjadi, kreator lokal β besar maupun kecil β perlu mulai bersiap sejak dini.
Raihan Fadli
Redaksi ekonomisia.com menyajikan liputan ekonomi dan bisnis kawasan secara akurat dan berimbang.

Tulis Komentar