Rahasia Como Putus Kontrak Adidas: 3 Tahun Kerja Sama Berakhir Demi Jersey Mandiri
EKONOMISIA.com – Como dikabarkan bakal mengakhiri kerja sama Adidas begitu musim 2026-2027 usai, menutup babak kolaborasi tiga tahun yang selama ini menempel di kostum klub asal Italia itu.
Keputusan ini datang di tengah pujian luas terhadap desain Jersey Como 1907 musim ini, yang bahkan memakai warga asli Como sebagai model peluncuran, bukan model profesional seperti kebanyakan klub top Eropa.
Langkah Como justru berlawanan arah dengan tren umum klub sepak bola. Ketika mayoritas tim yang naik kasta berlomba mengejar kontrak eksklusif dengan raksasa apparel seperti Nike, Puma, atau Adidas sebagai simbol status elite, Como memilih melepas ikatan tersebut begitu kontrak selesai.
Sebagaimana dikutip dari Hattrick, kerja sama Como dan Adidas selama tiga tahun terakhir ternyata bukan berbentuk kontrak komersial bernilai jutaan euro seperti anggapan banyak penggemar.
Skemanya adalah value in kind, di mana Adidas tidak mengucurkan dana tunai kepada klub, melainkan memasok produk jadi, bahan kain polos, dan perlengkapan latihan sesuai kesepakatan nilai tertentu.

Pola kerja sama semacam ini yang membuat Como tidak lantas mencari pengganti dari brand olahraga besar lain begitu kontrak Adidas berakhir. Sebaliknya, klub memilih memproduksi jersey sendiri mulai musim depan.
Seorang pemerhati jersey asal Indonesia menilai langkah ini realistis, sebab Como dianggap sudah mampu memproduksi sendiri jersey maupun lini produk fashion tanpa bergantung pada apparel olahraga ternama.
Ledakan Penjualan Merchandise Jadi Alasan Utama
Presiden klub, Mirwan Suarso, pernah membuka data internal yang menunjukkan lonjakan drastis performa bisnis retail Como. Lima tahun lalu, pendapatan dari penjualan merchandise klub hanya berkisar 62 ribu dolar Amerika, angka wajar untuk tim kecil yang saat itu nyaris bangkrut dan masih berkutat di divisi bawah Liga Italia.
Situasi berubah total pada musim lalu, saat penjualan merchandise Como menembus 16 juta dolar Amerika. Menariknya, kontribusi jersey pertandingan terhadap angka tersebut hanya berkisar 30 hingga 40 persen, jauh dari pola umum klub sepak bola yang biasanya mengandalkan jersey sebagai penopang utama penjualan. Sebagian besar pemasukan retail Como justru datang dari lini pakaian kasual sehari-hari.
Kondisi inilah yang membuat rencana produksi jersey mandiri semakin masuk akal secara bisnis. Dengan memutus mata rantai produksi dari Adidas, Como berpeluang mengantongi margin keuntungan lebih besar dari setiap unit produk yang terjual di pasar global.

Rencana ini disebut bukan sekadar strategi efisiensi biaya. Manajemen Como, yang mendapat sokongan finansial Jarum Group, disebut memiliki visi membangun ekosistem produksi jersey secara mandiri mulai musim 2027-2028. Model produksi in-house tersebut bahkan dipersiapkan untuk skema multiclub, di mana Como berpotensi menjadi vendor sekaligus perancang sportswear bagi klub-klub sepak bola lain di luar timnya sendiri.
Meski begitu, peluang logo Jarum tampil langsung di jersey terbentur regulasi ketat Eropa dan Serie A yang melarang iklan maupun sponsor produk tembakau dan rokok dalam olahraga. Pelanggaran atas aturan ini berpotensi berujung sanksi. Sebagai jalan keluar, Jarum tetap bisa memakai merek lain di bawah naungannya, salah satunya Polytron yang sebelumnya pernah menjadi sponsor Como, untuk berdampingan dengan Revolt dan Uber yang selama ini sudah lebih dulu terpasang di jersey klub.
Como Menuju Lifestyle Brand di Bawah Jarum Group
Keputusan Como akhiri kerja sama Adidas pada penghujung musim 2026-2027 mencerminkan pergeseran cara pandang dalam bisnis sepak bola modern. Jika bagi klub lain logo Adidas adalah simbol pencapaian, bagi Como perpisahan itu justru membuka jalan menuju kemandirian di sektor retail dan fashion.
Di bawah kendali konglomerat asal Indonesia, Jarum Group, Como tampak diarahkan menjadi lebih dari sekadar klub sepak bola biasa. Lini fashion premium klub, yang menyumbang lebih dari 60 persen pendapatan retail dari luar jersey pertandingan, dikomandoi Chief Brand Officer sekaligus desainer Como, Rigy Villa Senor, pendiri merek fashion Rude asal Amerika Serikat.
Dengan kombinasi sepak bola, fashion, dan citra eksklusif Danau Como, klub ini tengah dibentuk sebagai satu kesatuan bisnis lifestyle yang berpotensi dikembangkan lebih luas secara mandiri di masa depan.
Faisal Rahman
Redaksi ekonomisia.com menyajikan liputan ekonomi dan bisnis kawasan secara akurat dan berimbang.

Tulis Komentar