RUANG IKLAN β€” 970 x 90
Teknologi

5 Fakta Kejatuhan Teknologi Jepang dari Panggung Smartphone Dunia

5 Fakta Kejatuhan Teknologi Jepang dari Panggung Smartphone Dunia
Ponsel Nokia menjadi salah satu simbol era ponsel sederhana sebelum dunia memasuki babak smartphone.
RUANG IKLAN β€” 728 x 90

Sindrom Galapagos ungkap 5 fakta kejatuhan teknologi Jepang dari Sony hingga Sharp yang dulu berjaya, kini tersisih dari panggung smartphone dunia.

EKONOMISIA.com – Lima fakta kejatuhan teknologi Jepang dari panggung smartphone dunia terungkap lewat fenomena yang dikenal sebagai Sindrom Galapagos, istilah yang menjelaskan bagaimana negara yang dulu menjadi kiblat elektronik global, dari Sony, Sharp, Panasonic, hingga NEC, kini nyaris tak terlihat di rak-rak toko ponsel pintar dunia.

Fenomena ini bermula sejak era iMode dan FeliCa pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, saat inovasi ponsel Jepang berkembang sangat maju namun hanya berfungsi di dalam negeri, hingga akhirnya tergerus oleh kehadiran iPhone pada 2007 serta gempuran produsen asal Tiongkok dalam dua dekade terakhir.

RUANG IKLAN β€” 336 x 280

Istilah Sindrom Galapagos merujuk pada teknologi yang berkembang sangat maju dan spesifik terhadap lingkungan tempatnya tumbuh, sehingga sulit bertahan begitu dibawa keluar dari habitat aslinya. Analogi tersebut diambil dari Kepulauan Galapagos, tempat berbagai spesies berevolusi secara terisolasi hingga sangat sempurna beradaptasi dengan lingkungannya sendiri, namun rapuh ketika harus bersaing di luar sana.

Sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Nalar 404, fenomena inilah yang menimpa industri elektronik dan telekomunikasi Jepang sejak akhir dekade 1990-an hingga awal 2000-an.

Kejatuhan Teknologi Jepang: iMode dan FeliCa yang Terkurung di Dalam Negeri

5 Fakta Kejatuhan Teknologi Jepang dari Panggung Smartphone Dunia
Sony Walkman menjadi ikon kejayaan teknologi Jepang yang mengubah cara manusia menikmati musik secara personal.

Jauh sebelum dunia mengenal istilah smartphone, Jepang sudah lebih dulu menikmati kemewahan teknologi seluler yang jauh melampaui zamannya. Pada 1999, operator NTT Docomo meluncurkan iMode, layanan internet seluler komersial yang memungkinkan warga Jepang mengakses email, membaca berita, mengecek cuaca, hingga membeli tiket langsung dari layar ponsel mereka, di saat sebagian besar dunia masih puas dengan SMS sebagai puncak komunikasi digital.

Setahun berselang, Kyocera memperkenalkan salah satu ponsel berkamera komersial pertama yang beredar luas di pasaran. Inovasi tidak berhenti di situ. Sistem pembayaran berbasis FeliCa kemudian hadir dan mengubah ponsel menjadi alat bayar untuk transportasi umum, belanja di minimarket, sampai vending machine, jauh sebelum Google Wallet atau Apple Pay dikenal publik dunia.

Ponsel-ponsel Jepang bahkan sanggup menangkap siaran televisi digital, menjelma menjadi dompet, kamera, televisi, sekaligus tiket perjalanan dalam satu genggaman.

Persoalannya, seluruh kecanggihan itu hanya berfungsi sempurna di dalam negeri. Dompet digital bergantung pada jaringan lokal, layanan televisi memakai sistem penyiaran khas Jepang, dan iMode dibangun khusus untuk infrastruktur operator domestik.

Deretan ponsel jadul buatan Jepang yang pernah menawarkan fitur canggih seperti internet seluler dan pembayaran digital jauh sebelum tren tersebut mendunia.
Deretan ponsel jadul buatan Jepang yang pernah menawarkan fitur canggih seperti internet seluler dan pembayaran digital jauh sebelum tren tersebut mendunia.

Selama produk-produk itu tidak pernah menyeberang ke luar Jepang, semuanya berjalan mulus, dan pabrikan seperti Sharp, NEC, Fujitsu, Panasonic, Kyocera, serta Toshiba pun tidak melihat alasan kuat untuk mengubah arah bisnis mereka.

Situasi berubah drastis pada 2007 ketika Apple memperkenalkan iPhone. Dari kacamata insinyur Jepang yang terbiasa dengan keypad fisik, kamera mumpuni, dan baterai yang bisa dilepas, iPhone justru tampak sebagai perangkat penuh kompromi.

Namun Apple memakai ukuran keberhasilan yang sama sekali berbeda, mengandalkan ekosistem perangkat lunak dan pengalaman pengguna yang sederhana serta konsisten di seluruh dunia, bukan sekadar kerumitan perangkat keras.

Di titik inilah filosofi Monozukuri dan Kaizen, yang selama puluhan tahun menjadi kekuatan Jepang dalam soal kesempurnaan rekayasa dan penyempurnaan bertahap, mulai kehilangan relevansi. Era smartphone menuntut kecepatan membangun ekosistem aplikasi dan kemampuan bergerak gesit, bukan lagi sekadar perangkat keras paling rumit.

Ketergantungan pabrikan Jepang pada operator seperti NTT Docomo, KDDI, dan SoftBank turut memperparah keadaan. Fitur, desain, hingga cara sebuah ponsel dibuat lebih banyak ditentukan oleh permintaan operator ketimbang identitas produk itu sendiri.

Saat era smartphone tiba, ponsel Android buatan Jepang justru dibebani aplikasi bawaan operator yang tidak bisa dihapus, dengan antarmuka rumit dan performa yang tertinggal dari kompetitor.

Tekanan berikutnya datang dari Tiongkok. Model bisnis Apple yang merancang produk di California namun memproduksinya lewat mitra manufaktur seperti Foxconn kemudian ditiru oleh perusahaan-perusahaan yang tumbuh pesat di Shenzhen, seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo.

Kejatuhan Teknologi Jepang: iPhone Mengubah Ukuran Kemenangan di Industri Ponsel

Kehadiran iPhone pada 2007 mengubah arah persaingan industri ponsel dunia dan menjadi salah satu pemicu tergesernya dominasi teknologi Jepang.
Kehadiran iPhone pada 2007 mengubah arah persaingan industri ponsel dunia dan menjadi salah satu pemicu tergesernya dominasi teknologi Jepang.

 

Rantai pasok yang efisien membuat mereka mampu menawarkan spesifikasi tinggi dengan harga agresif, sehingga pabrikan Jepang pun terjepit dari dua arah sekaligus kalah ekosistem dari Apple di kelas premium, dan kalah harga dari produsen Tiongkok di kelas menengah ke bawah.

Meski demikian, Jepang sesungguhnya tidak pernah benar-benar hengkang dari industri smartphone. Mereka hanya bergeser dari wajah yang terlihat konsumen menjadi fondasi tak kasatmata yang menopang hampir seluruh perangkat modern.

Sensor kamera pada banyak ponsel flagship dunia kerap berasal dari Sony, sementara komponen MLCC yang menstabilkan aliran listrik pada papan sirkuit banyak dipasok oleh Murata Manufacturing. Wafer silikon ultra-murni untuk semikonduktor turut disokong Shin-Etsu Chemical, sedangkan material fotoresis untuk proses litografi melibatkan perusahaan seperti JSR dan Tokyo Ohka Kogyo.

Produsen ponsel asal Tiongkok seperti Vivo dan Xiaomi tumbuh pesat lewat rantai pasok yang efisien, ikut menekan posisi pabrikan Jepang di pasar smartphone global.

Paradoksnya, semakin krusial peran perusahaan-perusahaan tersebut dalam rantai produksi global, semakin jarang pula nama mereka disebut oleh konsumen awam. Jepang mungkin kalah dalam perang merek, tetapi memenangkan pertarungan lain sebagai pemasok teknologi yang dibutuhkan hampir semua pihak, dari California hingga Shenzhen.

Yang hilang dari Jepang bukanlah kemampuan menciptakan teknologi, melainkan kendali atas arah industri itu sendiri. Jika dahulu kemenangan ditentukan oleh siapa yang membuat perangkat keras terbaik, kini penentunya adalah siapa yang menguasai sistem operasi, ekosistem aplikasi, layanan digital, dan kecerdasan buatan.

Babak baru persaingan pun telah dimulai lewat kecerdasan buatan, robotika, semikonduktor, dan komputasi kuantum, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Jepang memimpin ekosistem baru ini sebelum dunia kembali berubah tanpa menunggu mereka?

Bagikan: f 𝕏
RUANG IKLAN β€” 728 x 90
Ditulis oleh

Nadia Ariestya

Redaksi ekonomisia.com menyajikan liputan ekonomi dan bisnis kawasan secara akurat dan berimbang.

Berita Terkait

Tulis Komentar