RUANG IKLAN β€” 970 x 90
News Update

Harga Solar AS Meroket ke Rekor $5,85, Dampak Dahsyat Perang Iran

RUANG IKLAN β€” 728 x 90

ekonomisia.com/ – Dompet warga Amerika Serikat kembali tertekan. Harga solar Amerika Serikat melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah pada Jumat lalu, seiring perang yang tak kunjung usai antara Washington dan Teheran terus mengguncang rantai pasokan energi dunia.

Kenaikan ini bukan sekadar angka di papan pompa bensin, melainkan sinyal tekanan ekonomi yang mulai merambat ke hampir seluruh sektor usaha.

Rekor tersebut tercatat sebesar $5,85 per galon, melonjak hampir 60 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Solar sendiri merupakan tulang punggung distribusi barang di Negeri Paman Sam, menggerakkan truk gandeng, sebagian jaringan kereta api, kapal kargo, hingga mesin-mesin pertanian.

RUANG IKLAN β€” 336 x 280

Ketika harga bahan bakar ini melambung, ongkos angkut ikut terkerek, dan pada akhirnya konsumen di ujung rantai pasoklah yang menanggung beban.

Sebagaimana dikutip dari Associated PressΒ rata-rata nasional solar berada di kisaran $3,76 per galon sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada akhir Februari lalu.

Artinya, dalam hitungan bulan, harga sudah terkerek lebih dari 55 persen. Data American Automobile Association (AAA) menjadi rujukan utama di balik angka-angka mencengangkan ini.

Harga Solar AS Kian Mengkhawatirkan

Harga Solar AS Meroket
Harga minyak kian tidak stabil karena perang di Timur Tengah

Lonjakan harga solar berbanding lurus dengan pergerakan harga minyak mentah dunia. Konflik yang memanas telah mengganggu produksi minyak, jalur perdagangan, hingga lalu lintas kapal tanker di kawasan strategis tersebut.

Minyak mentah Brent, yang menjadi patokan pasar global, diperdagangkan di atas $95 per barel pada Jumat, jauh melampaui harga sekitar $70 per barel sebelum perang pecah.

Mengapa lonjakan harga solar ini begitu meresahkan? Jawabannya ada pada peran vital bahan bakar tersebut dalam rantai pasok pangan. Mesin pertanian dan kapal penangkap ikan sangat bergantung pada solar, begitu pula truk dan kereta yang mengangkut hasil bumi ke pasar.

Independent Grocers Alliance memperkirakan biaya bahan bakar bisa menyumbang 15 hingga 30 persen dari total ongkos produksi makanan. Produk yang mudah rusak menjadi paling rentan, sebab membutuhkan pengiriman cepat dan penyimpanan berpendingin yang juga mengandalkan energi.

Dampaknya sudah mulai terasa di luar sektor logistik tradisional. Sejumlah perusahaan pengiriman dan bisnis daring mulai menambahkan atau menyesuaikan biaya tambahan pada pesanan pelanggan selama konflik berlangsung, sebagai respons atas melonjaknya ongkos bahan bakar dan distribusi.

Harga Bensin Ikut Terseret Naik

Tak hanya solar, harga bensin reguler pun ikut terdongkrak meski kenaikannya tak setajam solar. AAA mencatat harga rata-rata bensin nasional berada di angka $4,15 per galon pada Jumat, naik signifikan dari sekitar $2,98 sebelum perang Iran pecah dan $3,20 pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Para pengamat energi menyebut perbedaan laju kenaikan antara solar dan bensin dipengaruhi oleh karakteristik proses penyulingan, pola pasokan, serta tingkat permintaan masing-masing bahan bakar. Permintaan solar cenderung tidak elastis karena perannya yang sentral bagi transportasi komersial, sehingga kenaikan harga sulit dihindari oleh pelaku usaha.

Guncangan harga bahan bakar ini muncul di saat ekonomi Amerika Serikat masih bergulat dengan tingginya biaya hidup. Jika harga solar Amerika Serikat bertahan tinggi dalam waktu lama, ongkos pengiriman yang membengkak berpotensi merembes ke harga barang konsumen secara bertahap, menambah tekanan ekonomi sekaligus politik menjelang pemilihan paruh waktu November mendatang.

Bagikan: f 𝕏
RUANG IKLAN β€” 728 x 90
Ditulis oleh

Nadia Ariestya

Redaksi ekonomisia.com menyajikan liputan ekonomi dan bisnis kawasan secara akurat dan berimbang.

Berita Terkait

Tulis Komentar