Inflasi AS Tembus 3,4 Persen, Perang Timur Tengah Bikin Harga BBM Mencekik
EKONOMISIA.com – Inflasi AS kembali menjadi sorotan setelah harga bahan bakar melonjak tajam akibat pertempuran yang pecah lagi di Timur Tengah. Kenaikan ini datang di saat yang kurang tepat, hanya tujuh minggu menjelang pemilihan paruh waktu, ketika isu daya beli menjadi perhatian utama jutaan pemilih Amerika Serikat.
Departemen Tenaga Kerja AS mengumumkan pada Jumat bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) naik 3,4 persen secara tahunan pada Agustus, angka yang sama dengan capaian Juli. Namun yang mengkhawatirkan, laju inflasi bulanan justru melompat 0,4 persen dari Juli ke Agustus, empat kali lipat dibanding kenaikan 0,1 persen pada bulan sebelumnya.
Sebagaimana dikutip dari Associated Press (AP News, https://apnews.com), inflasi AS tercatat masih bertahan tinggi lebih dari lima tahun sejak lonjakan harga pasca-pemulihan ekonomi dari pandemi. Laporan tersebut menambah tekanan bagi para pembuat kebijakan di Federal Reserve untuk kembali menaikkan suku bunga acuan pada pekan depan, sebuah langkah yang berpotensi mengerek biaya kredit rumah dan cicilan kendaraan dalam beberapa bulan ke depan.
Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dan sejumlah pejabat bank sentral sebelumnya mengisyaratkan bahwa mereka membutuhkan bukti disinflasi yang konsisten sebelum bersedia mempertahankan suku bunga di level saat ini. Sayangnya, data terbaru justru berkata sebaliknya.
“Laporan bulan Agustus hari ini tidak memberikan hasil yang diharapkan,” ujar Kathy Bostjancic, kepala ekonom Nationwide, menanggapi rilis data tersebut.
Harga Bensin Jadi Biang Kerok Inflasi AS
Lonjakan inflasi AS kali ini tidak berdiri sendiri. Harga bensin melonjak 3,9 persen hanya dalam sebulan, sehingga secara tahunan sudah naik lebih dari 27 persen. Rata-rata harga bensin nasional pada Jumat tercatat 7 persen lebih mahal dibanding bulan sebelumnya, menyentuh 4,30 dolar AS per galon. Harga solar bahkan memecahkan rekor, menembus lebih dari 6 dolar AS per galon, memicu kenaikan ongkos distribusi bahan makanan dan barang kebutuhan lain.
Bukan cuma bensin. Harga tiket pesawat naik 2,7 persen bulanan dan melonjak lebih dari 23 persen dibanding tahun lalu. Tarif kamar hotel ikut naik 2,4 persen dari Juli ke Agustus, atau 3,2 persen lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Biaya reparasi mobil pun tak luput, naik 1,1 persen bulanan dan 5,2 persen tahunan.
Di luar makanan dan energi yang fluktuatif, inflasi inti Agustus tercatat 2,4 persen secara tahunan, sedikit melandai dari 2,5 persen di Juli dan menjadi penurunan ketiga berturut-turut. Namun secara bulanan, inflasi inti justru naik 0,3 persen, kenaikan tertinggi sejak April.
“Para analis dan The Fed sudah memperkirakan kategori harga ini akan melambat pada saat ini,” tulis Scott Anderson, kepala ekonom AS di BMO Capital Markets. “Tren yang muncul dari laporan CPI Agustus tidak memberikan keyakinan bahwa inflasi terus berada di jalur moderasi menuju target 2 persen.”
Peluang Kenaikan Suku Bunga Fed Makin Besar
Data inflasi AS yang mengejutkan ini langsung mendongkrak ekspektasi pasar. Investor Wall Street kini melihat peluang lebih dari 80 persen The Fed akan menaikkan suku bunga pada 16 September, menurut CME FedWatch, naik 10 poin hanya dalam sehari. Pada pertemuan kebijakan terakhir akhir Juli, The Fed memang mempertahankan suku bunga, tetapi tiga pejabatnya sudah memberi sinyal mendukung kenaikan seperempat poin, yang berpotensi mengerek suku bunga acuan dari 3,6 persen menjadi sekitar 3,9 persen.
Di tengah tekanan ini, Pemerintahan Trump berupaya meredam kekhawatiran publik. Presiden Donald Trump pada Rabu menjanjikan pembayaran 5.000 dolar AS untuk setiap warga dewasa jika Partai Republik mempertahankan mayoritas di Kongres, meski rencana itu masih membutuhkan persetujuan Kongres dan berisiko justru memperparah inflasi.
Beban itu terasa nyata bagi Chris Mitchell, 36 tahun, agen layanan pelanggan sebuah pengecer suku cadang mobil. Sebelum pandemi, ia biasa makan di luar dua hingga tiga kali sepekan dan sesekali menonton teater. Kini kebiasaan itu nyaris hilang. Sewa tempat tinggal yang ditinggalinya bersama pasangan dan anak pasangannya yang berusia 12 tahun naik 200 dolar AS tahun ini menjadi 2.300 dolar AS, memaksanya pindah agar bisa berbagi beban tagihan.
“Saya sedang kesulitan, saya butuh kenaikan gaji, saya akan meminta kenaikan gaji kepada atasan saya minggu depan,” katanya. Ia terakhir mendapat kenaikan gaji dua tahun lalu, “tapi sekarang gaji itu tidak cukup lagi.”
Ekonom seperti Bostjancic menilai lonjakan inflasi AS kali ini bukan sekadar guncangan sesaat. “Ini bukan kejadian sekali jadi. Belum jelas kapan ketegangan di Timur Tengah akan mereda… ini tampaknya akan menjadi gangguan yang berkepanjangan,” ujarnya.
Faisal Rahman
Redaksi ekonomisia.com menyajikan liputan ekonomi dan bisnis kawasan secara akurat dan berimbang.

Tulis Komentar