RUANG IKLAN β€” 970 x 90
Pasar

Harga Bitcoin Tembus Rata-Rata 50 Minggu, Sinyal Bullish Kuat

Harga Bitcoin Tembus Rata-Rata 50 Minggu, Sinyal Bullish Kuat
Harga Bitcoin menutup pekan di atas rata-rata pergerakan 50 minggu untuk pertama kalinya dalam 45 minggu
RUANG IKLAN β€” 728 x 90

EKONOMISIA.com – Harga Bitcoin akhirnya menembus batas yang secara historis kerap mendahului kenaikan besar. Pada penutupan pekan yang berakhir 20 September, Bitcoin bertahan di atas rata-rata pergerakan 50 minggu untuk pertama kalinya dalam 45 minggu, lalu melaju melewati $85.000 pada Senin.

Kepala Galaxy Research, Alex Thorn, menilai capaian ini sebagai konfirmasi penting bahwa fase penurunan pasar mungkin sudah usai dan tren naik baru telah tiba. Sepanjang pekan lalu, Bitcoin menguat hampir 6% dan diperdagangkan sekitar $81.000, memperpanjang rebound menjadi 29% dalam 35 hari terakhir.

Sebagaimana dikutip dari CoinDesk, candlestick mingguan, yakni gambaran grafis pergerakan harga Bitcoin selama sepekan, kini berada di atas rata-rata 50 minggu dan tidak sekadar menguji garis tersebut.

RUANG IKLAN β€” 336 x 280

Baca juga: Spekulasi atau Investasi? 5 Fakta Penting Bitcoin vs Saham Wajib Diketahui

Bedanya penting. Bitcoin diperdagangkan nonstop, tetapi candle mingguan ditutup pukul 23:59 UTC pada hari Minggu, lalu candle baru langsung dibuka. Analis umumnya memberi bobot lebih pada penutupan mingguan atau harian di atas rata-rata pergerakan utama ketimbang pada lonjakan singkat yang hanya menyentuhnya.

Mengapa Harga Bitcoin dan Rata-Rata 50 Minggu Begitu Dicermati?

Rata-rata pergerakan 50 minggu adalah rata-rata harga penutupan mingguan selama kurang lebih satu tahun terakhir. Dalam analisis pasar, garis ini sering dipakai sebagai indikator tren jangka panjang Bitcoin. Saat pasar sehat, harga cenderung bertahan di atasnya. Saat penurunan berkepanjangan, reli sering kali mentok di bawah garis itu.

Galaxy menyebutnya semacam batas atas pada masa koreksi besar. Begitu Bitcoin jatuh di bawah level tersebut, upaya merebutnya kembali secara historis gagal sampai pasar mendekati titik terendah yang stabil. Sebaliknya, terobosan yang berhasil menandai berakhirnya pasar bearish dan membuka jalan bagi kenaikan signifikan.

Baca juga: Perang di Timur Tekan Harga Bitcoin, Bertahan di Kisaran US$68.000

Jejak Sejarah: 11 dari 13 Kali, Dasar Pasar Tak Tersentuh Lagi

Galaxy menelusuri penurunan besar Bitcoin sejak 2011. Hasilnya, Bitcoin 13 kali ditutup seminggu di atas rata-rata 50 minggu. Dalam 11 kasus, pasar tidak lagi mencetak titik terendah baru, pertanda penurunan terburuk telah lewat.

Setelah jatuh pada 2011, Bitcoin pulih pada Januari 2012 dan kemudian naik sekitar 600 kali lipat, dari kisaran $2 ke rekor tertinggi saat itu di dekat $1.200 pada akhir 2013. Usai pasar bearish 2014-2015, garis tersebut kembali ditembus pada Oktober 2015. Harga tak kembali ke dasar siklus dan reli sekitar 100 kali lipat, dari sekitar $200 ke dekat $20.000 pada Desember 2017.

Pada Mei 2019, Bitcoin kembali di atas rata-rata setelah ambruk pada 2018 dan tidak menyentuh lagi titik terendah Desember 2018. Dari dasar sekitar $3.200, harga naik sekitar 22 kali lipat hingga melampaui $69.000 pada November 2021.

Terakhir, setelah dasar pasar 2022, Bitcoin menembus rata-rata pada Maret 2023 dan bertahan di atasnya lebih dari dua tahun. Dari sekitar $15.500, harga naik sekitar delapan kali lipat menuju rekor sekitar $126.000 pada Oktober 2025.

Perlu dicatat, angka-angka itu bersifat perkiraan karena data harga awal Bitcoin tidak konsisten. Fungsinya menggambarkan skala reli, bukan membuktikan bahwa persilangan rata-rata saja yang menjadi penyebabnya.

Sejarah Bukan Jaminan bagi Harga Bitcoin

Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan, dan garis 50 minggu pun pernah meleset. Dua dari 13 percobaan gagal, keduanya pada periode bergejolak akhir 2021 dan awal 2022. Saat itu Bitcoin sempat naik di atas rata-rata, lalu berbalik dan akhirnya jatuh menuju $16.000. Galaxy mencatat kegagalan tersebut pada persilangan 26 Desember 2021 dan 27 Maret 2022.

Berdasarkan data CoinDesk, Bitcoin saat penulisan diperdagangkan mendekati $81.450, sementara rata-rata 50 minggu berada di $78.115. Jika sejarah menjadi acuan, titik terendah pasar bearish mungkin sudah tercapai sekitar $60.000 dalam beberapa bulan terakhir, dan peluang menuju level tertinggi baru ikut membesar.

Meski begitu, hasil akhirnya bergantung pada kemampuan Bitcoin bertahan di atas rata-rata pergerakan dalam beberapa minggu ke depan.

Baca juga: Inflasi AS Tembus 3,4 Persen, Perang Timur Tengah Bikin Harga BBM Mencekik

Harga Bitcoin Tembus $85.000, Bitwise Sebut Musim Dingin Kripto Usai

Reli berlanjut pada Senin. Menurut CoinMetrics, Bitcoin diperdagangkan di $84.256 sekitar pukul 06:35 pagi ET, naik sekitar 3,8%. Sebelumnya, harga sempat menyentuh $85.229, level tertinggi sejak akhir Januari.

Investor kini menimbang apakah “musim dingin kripto”, periode penurunan aset digital yang dimulai setelah rekor di atas $126.000 pada Oktober 2025, sudah berakhir. Harga Bitcoin memang masih turun tahun ini, tetapi sudah naik lebih dari 7% dalam lima hari dan hampir 35% dalam tiga bulan terakhir.

Chief Investment Officer Bitwise, Matt Hougan, yakin jawabannya ya. “Saya rasa ini sudah berakhir, ini adalah musim semi kripto, bunga crocus sedang bermekaran,” katanya kepada “Squawk Box Europe” CNBC.

“Saya pikir ini akan menjadi pasar bullish terkuat dan terlama dalam sejarah kripto.” Ia menyebut fundamental membaik, mulai dari makin banyaknya transaksi antar blockchain hingga keterlibatan perusahaan besar seperti BlackRock.

Baca juga: Waspada! 6 Saham Dividen Tinggi Ini Berisiko Pemotongan Besar

Analis BTIG menilai, selama level $75.000 bertahan, investor bullish dapat membidik $82.000 dalam perjalanan menuju $90.000. Reli ini terjadi meski Senat AS pekan lalu memblokir Clarity Act, RUU yang akan menetapkan kerangka kripto dan membagi pengawasan antara SEC dan CFTC. Hougan menilai harga masih bisa naik tanpa RUU itu karena kedua lembaga akan menetapkan aturan untuk saat ini.

“Ini adalah SEC yang paling pro-kripto dalam sejarah AS; ini adalah CFTC yang paling pro-kripto dalam sejarah AS,” ujarnya.

Hougan juga melihat investor mulai berputar dari saham AI kembali ke kripto. Menurutnya, momentum AI yang mereda membuat dana itu mengalir balik.

Bagikan: f 𝕏
RUANG IKLAN β€” 728 x 90
Ditulis oleh

Faisal Rahman

Redaksi ekonomisia.com menyajikan liputan ekonomi dan bisnis kawasan secara akurat dan berimbang.

Berita Terkait

Tulis Komentar