RUANG IKLAN β€” 970 x 90
Pasar

Mengejutkan! AS Pangkas 23.000 Pekerjaan, Wall Street Justru Melejit

Gambar arsip Reuters digunakan dalam pemberitaan mengenai **pasar tenaga kerja AS dan ekspektasi suku bunga Federal Reserve
Gambar arsip Reuters digunakan dalam pemberitaan mengenai **pasar tenaga kerja AS dan ekspektasi suku bunga Federal Reserve
RUANG IKLAN β€” 728 x 90

EKONOMISIA.com – Wall Street justru berpesta di tengah kabar buruk dari pasar tenaga kerja. Bursa saham Amerika Serikat ditutup menghijau pada perdagangan Jumat, sementara imbal hasil obligasi pemerintah melorot, setelah data resmi menunjukkan perusahaan-perusahaan di Negeri Paman Sam secara tak terduga memangkas 23.000 pekerjaan sepanjang bulan lalu.

Ironisnya, kabar suram soal ketenagakerjaan itu justru dibaca pasar sebagai sinyal positif. Investor menilai pelemahan tersebut memberi ruang lebih besar bagi Federal Reserve untuk menahan diri sebelum mengambil langkah lanjutan dalam memerangi inflasi. Ketiga indeks utama Wall Street kompak mencatatkan penguatan untuk minggu kedua berturut-turut, bahkan beberapa di antaranya menembus rekor baru, menandai awal Agustus yang kuat setelah beberapa bulan perdagangan yang cenderung lesu.

Sebagaimana dikutip dari Manila Times Β Indeks S&P 500 naik 47,68 poin atau 0,6 persen ke level 7.757,64, melampaui rekor tertinggi sepanjang masa yang baru saja dicetak pada Selasa. Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 151,83 poin atau 0,3 persen ke posisi 54.036,93, sedikit di bawah rekor yang tercipta pada Rabu. Sementara itu, Nasdaq Composite melesat paling tinggi dengan kenaikan 342,26 poin atau 1,3 persen menjadi 26.690,62, ditopang saham-saham teknologi berkapitalisasi besar yang kerap menjadi penentu arah pasar. Nvidia melonjak 2,3 persen dan Broadcom naik 1,7 persen.

RUANG IKLAN β€” 336 x 280

Di pasar obligasi, reaksi justru lebih tajam. Imbal hasil Treasury bertenor 10 tahun turun menjadi 4,64 persen dari sebelumnya 4,67 persen sesaat sebelum data pekerjaan dirilis, bahkan sempat menyentuh 4,60 persen sebelum sedikit pulih. Imbal hasil Treasury dua tahun, yang lebih mencerminkan ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed, turun ke 4,20 persen dari 4,22 persen, sempat menyentuh 4,15 persen sebelum kembali naik tipis.

Peter Graf, kepala investasi di Amova Asset Management Americas, mengingatkan agar pasar tidak lengah di balik euforia tersebut. “Meskipun pasar saham kemungkinan akan menyambut baik implikasi kebijakan moneter yang lunak dari laporan tersebut, investor harus waspada terhadap potensi pertumbuhan ekonomi di masa depan di mana lebih sedikit orang yang bekerja,” ujarnya dalam catatan riset.

Laporan tersebut juga membawa kabar kurang menggembirakan lainnya: data payroll bulan Juni dan Mei direvisi turun, dengan total pengurangan mencapai 103.000 pekerjaan dari catatan sebelumnya. Padahal, sektor ketenagakerjaan selama ini menjadi salah satu titik terang perekonomian AS di tengah tekanan inflasi dan kekhawatiran soal pengeluaran rumah tangga.

The Fed sejauh ini masih menahan suku bunga di tengah kekhawatiran inflasi yang terdorong naik oleh harga minyak akibat perang AS dengan Iran. Ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga pada September pun ikut tergerus, turun menjadi 42 persen dari 55 persen sehari sebelumnya dan 67 persen sepekan sebelumnya, menurut data CME FedWatch.

Ellen Zentner, kepala ahli strategi ekonomi Morgan Stanley Wealth Management, menilai data yang lemah hari itu mengurangi tekanan bagi The Fed. “Data penggajian yang lemah hari ini mungkin akan mengurangi tekanan pada The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan September mendatang, tetapi data inflasi minggu depan kemungkinan besar akan tetap menjadi faktor penentu,” katanya.

Di luar isu ketenagakerjaan, sepekan terakhir juga diwarnai musim laporan keuangan kuartal kedua yang menunjukkan hasil kuat, dengan hampir 90 persen emiten S&P 500 telah melapor dan pertumbuhan laba diperkirakan mencapai 50 persen. Saham Airbnb bahkan melonjak 17,4 persen setelah laba dan pendapatan kuartalannya melampaui ekspektasi analis. Harga minyak turut menguat, dengan Brent naik 1,3 persen ke level 83,55 dolar AS per barel, di tengah negosiasi AS dan Iran untuk membuka kembali jalur Selat Hormuz.

Bagikan: f 𝕏
RUANG IKLAN β€” 728 x 90
Ditulis oleh

Nadia Ariestya

Redaksi ekonomisia.com menyajikan liputan ekonomi dan bisnis kawasan secara akurat dan berimbang.

Berita Terkait

Tulis Komentar