RUANG IKLAN — 970 x 90
Pasar

Waspada! 6 Saham Dividen Tinggi Ini Berisiko Pemotongan Besar

saham dividen tinggi berisiko pemotongan
saham dividen tinggi berisiko pemotongan
RUANG IKLAN — 728 x 90

EKONOMISIA.com – Imbal hasil dividen yang menembus 29% kerap tampak menggiurkan bagi investor pemburu pendapatan pasif, namun angka besar itu justru bisa menjadi alarm. Setidaknya enam saham dividen tinggi kini menunjukkan tanda cakupan pembayaran yang mulai menipis, mengindikasikan potensi pemangkasan dividen di masa mendatang.

Fenomena ini menjadi sorotan karena imbal hasil di atas rata-rata pasar tidak selalu berarti keuntungan bagi investor sabar. Dalam banyak kasus, angka tinggi tersebut justru mencerminkan kekhawatiran pasar bahwa perusahaan akan segera memangkas pembayarannya, entah karena penurunan harga saham, penambahan utang, atau penerbitan saham baru untuk menutup kekurangan kas.

Sebagaimana dikutip dari 24/7 Wall Street, dividen dikategorikan tidak berkelanjutan ketika metrik cakupan utama—seperti laba per saham untuk perusahaan umum, FFO untuk REIT properti, atau arus kas yang dapat didistribusikan untuk MLP—tidak lagi mampu menutupi pembayaran yang dijanjikan.

RUANG IKLAN — 336 x 280

Arbor Realty Trust menjadi salah satu contoh mencolok. Saham REIT hipotek komersial ini anjlok 53,65% dalam setahun terakhir menjadi $4,76, sementara laba yang dapat didistribusikan turun ke $0,10 per saham dari $0,25 tahun sebelumnya. Manajemen Arbor bahkan mengakui bahwa “kerugian bersih GAAP menunjukkan laba yang dapat didistribusikan mungkin tidak dapat menutupi dividen dari waktu ke waktu.”

Kondisi serupa terjadi pada Medical Properties Trust, yang rasio utang bersihnya terhadap EBITDA mencapai 8,9 kali dengan cakupan bunga hanya 1,9 kali. CFO perusahaan menyebut penerimaan kas dari penyewa “masih di kisaran 80-an”, menandakan risiko yang belum sepenuhnya reda meski perusahaan baru menerbitkan obligasi senilai $2,4 miliar.

Icahn Enterprises, dengan imbal hasil 29,3%, mencatat EBITDA yang disesuaikan berbalik menjadi kerugian $134 juta, sementara nilai aset bersih indikatifnya susut $765 juta hanya dalam satu kuartal. Perusahaan menyatakan hasil anak usaha “mungkin tidak cukup untuk melakukan distribusi kepada perusahaan induk.”

Empat saham lain—ARMOUR Residential REIT, Orchid Island Capital, dan AGNC Investment—juga menunjukkan pola serupa: penerbitan saham baru untuk mendanai dividen, durasi portofolio yang meningkat, hingga riwayat pemangkasan berulang.

Bagi investor pendapatan, imbal hasil dua digit sebaiknya diperlakukan sebagai hipotesis yang perlu diverifikasi, bukan alasan untuk langsung membeli saham dividen tinggi tersebut.

Bagikan: f 𝕏
RUANG IKLAN — 728 x 90
Ditulis oleh

Raihan Fadli

Redaksi ekonomisia.com menyajikan liputan ekonomi dan bisnis kawasan secara akurat dan berimbang.

Berita Terkait

Tulis Komentar