6 Rahasia Kekuatan Ekonomi Israel di Tengah Konflik Berkepanjangan
EKONOMISIA.com – Kekuatan ekonomi Israel kerap mengundang tanya banyak pengamat global. Negara dengan populasi hanya sekitar 10 juta jiwa ini tidak memiliki cadangan minyak melimpah seperti tetangganya di Timur Tengah, namun mampu tumbuh menjadi salah satu ekonomi paling maju dan inovatif di dunia.
Yang membuat pencapaian itu semakin menarik adalah konteks geopolitiknya. Sejak dideklarasikan pada 14 Mei 1948, Israel langsung terlibat perang dengan negara-negara Arab di sekitarnya. Alih-alih melumpuhkan perekonomian, tekanan konflik itu justru mendorong lahirnya berbagai terobosan yang kini menjadi tulang punggung kekuatan ekonomi Israel.
Sebagaimana dikutip dari Bennix, pada masa-masa awal berdirinya, Israel masih sangat bergantung pada bantuan luar negeri, terutama dari komunitas diaspora Yahudi. Kompensasi dari Jerman melalui Perjanjian Luksemburg pada 1952, sebagai ganti rugi atas tragedi Holocaust, turut menjadi modal pembangunan awal negara itu. Namun seiring waktu, ketergantungan pada dana eksternal itu berangsur hilang seiring tumbuhnya industri dalam negeri.
Kekuatan Ekonomi Israel Tumbuh Tanpa Minyak dan Sumber Daya Alam

Sektor agrikultur menjadi salah satu fondasi paling mencolok. Ketika Israel berdiri, sekitar 60 persen wilayahnya merupakan padang pasir Negev dengan curah hujan minim. Alih-alih menyerah pada keterbatasan alam, para insinyur Israel justru menciptakan sistem irigasi tetes yang mampu memangkas pemborosan air hingga 70 persen sekaligus mendongkrak hasil panen. Teknologi ini kini diadopsi oleh sekitar 100 negara di dunia.
Dari sanalah lahir sejumlah perusahaan teknologi pertanian kelas dunia, seperti Netafim yang menggarap irigasi presisi, Adama yang memproduksi perlindungan tanaman, ICL Group di bidang mineral dan pupuk, hingga CropX yang mengembangkan sensor tanah untuk memantau kelembapan. Pada 2019, Adama tercatat membukukan penjualan hingga 4 miliar dolar AS atau setara Rp67 triliun.
Keterbatasan air tidak berhenti di sektor pertanian saja. Israel mengembangkan teknologi desalinasi dengan metode reverse osmosis, menyaring air laut melalui membran bertekanan tinggi untuk memisahkan garam dan mineral. Hasilnya, produksi air Israel bahkan melampaui kebutuhan domestik hingga 20 persen, dengan lebih dari separuh kebutuhan air rumah tangga berasal dari air laut yang didesalinasi. Israel bahkan kini berstatus eksportir air tawar ke kawasan sekitar, termasuk Yordania.
Di sektor investasi dan teknologi, titik balik terjadi pada awal 1990-an. Gelombang ilmuwan dan peneliti, termasuk yang berdatangan dari bekas Uni Soviet setelah bubar pada 1991, membawa modal manusia besar namun terkendala modal finansial. Pemerintah Israel menjawabnya lewat program Yozma pada 1993, yang menyalurkan dana negara sekaligus membentuk perusahaan modal ventura untuk menarik investor asing masuk ke startup lokal di bidang teknologi komunikasi, informasi, dan ilmu hayati.
Skema berbagi risiko dalam program itu terbukti efektif menarik investor global. Sejumlah startup Israel pun tumbuh menjadi pemain besar dunia, seperti Check Point Software, Mobileye, dan Waze. Mobileye diakuisisi Intel pada 2017 senilai 15,3 miliar dolar AS, sementara Waze dibeli Google pada 2013 senilai 1,1 miliar dolar AS.
Sektor keamanan siber turut menyumbang porsi besar. Pada 2024, startup Israel menerima investasi hingga Rp15 triliun, dengan keamanan siber menyumbang 39 persen dari total tersebut. Penanaman modal asing ke Israel sepanjang tahun yang sama bahkan mencapai Rp236 triliun.
Anggaran Pendidikan, Fondasi Jangka Panjang Kekuatan Ekonomi Israel
Industri pertahanan menjadi pilar lain yang tak kalah signifikan. Selain dukungan Amerika Serikat, Israel mengembangkan sendiri berbagai teknologi militer seperti sistem pertahanan udara Iron Dome, David’s Sling, drone Hermes 900, hingga tank Merkava. Ekspor senjata Israel pada 2024 tercatat mencapai Rp244 triliun, dengan sistem rudal, roket, dan pertahanan udara menyumbang 48 persen dari total nilai ekspor tersebut.
Semua pencapaian itu tidak lepas dari investasi besar di sektor pendidikan. Menyadari minimnya sumber daya alam, Israel menempatkan kualitas manusia sebagai modal utama pembangunan. Anggaran pendidikan negara itu pada 2022 tercatat mencapai Rp575 triliun, atau hampir 6 persen dari produk domestik bruto.
Pada akhirnya, kekuatan ekonomi Israel tidak lahir dari luasnya wilayah, besarnya populasi, atau kekayaan sumber daya alam. Fondasi itu dibangun lewat kombinasi teknologi pertanian, pengelolaan air, ekosistem investasi, sistem pendidikan, dan industri pertahanan. Tekanan konflik yang terus membayangi justru menjadi pemicu lahirnya inovasi demi inovasi, membuktikan bahwa ukuran negara bukan penentu tunggal kekuatan sebuah bangsa di panggung internasional.
Nadia Ariestya
Redaksi ekonomisia.com menyajikan liputan ekonomi dan bisnis kawasan secara akurat dan berimbang.


Tulis Komentar