BYD dan Pergeseran Kekuatan Industri Otomotif Dunia
EKONOMISIA.com – Dominasi lebih dari satu abad milik Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat di industri otomotif dunia kini goyah oleh laju BYD kendaraan listrik asal China. Merek-merek legendaris seperti Toyota, Volkswagen, Mercedes-Benz, Ford, hingga BMW yang selama ini menjadi simbol kemakmuran sekaligus penopang ekonomi negaranya, perlahan kehilangan cengkeraman di pasar global.
Sinyal pergeseran itu terlihat jelas dari kinerja para raksasa lama. Mercedes-Benz mencatat penurunan laba, Stellantis merugi dalam jumlah besar, sementara Volkswagen terpaksa memangkas puluhan ribu karyawan. Di tengah guncangan tersebut, nama BYD terus mencuat sebagai kekuatan baru yang paling diperhitungkan.
Sebagaimana dikutip dari kanal YouTube EpicVice, BYD sebenarnya lebih dulu dikenal sebagai produsen baterai sebelum merambah industri otomotif. Bahkan hingga awal 2000-an, gagasan bahwa perusahaan ini bisa menyaingi Tesla masih dianggap mustahil. Kini situasinya berbalik total: BYD menjelma menjadi salah satu produsen kendaraan listrik terbesar di dunia.
Ekspansi BYD Kendaraan Listrik Merambah Asia Tenggara hingga Eropa
Perluasan pengaruh BYD tidak berhenti di pasar domestik China. Di Thailand, perusahaan ini berhasil merebut pangsa pasar kendaraan listrik dalam waktu singkat. Di Singapura, sekitar satu dari lima mobil baru yang terjual merupakan produk BYD, sementara di Malaysia merek tersebut menjadi salah satu yang paling laris di segmen listrik.
Langkah serupa terjadi di Eropa, di mana merek-merek asal China kini menguasai lebih dari 11 persen penjualan kendaraan listrik dan angkanya terus merangkak naik. Stellantis tertekan di pasar utamanya, sementara Audi kehilangan pelanggan di China sekaligus menghadapi persaingan ketat di kandang sendiri. Ekspansi bahkan menjangkau Brasil, Meksiko, Israel, hingga Norwegia—di Brasil, BYD bahkan mengambil alih bekas pabrik Ford untuk memperkuat produksi lokal.

Rahasia di Balik Kebangkitan BYD: Dari Baterai ke Mobil Listrik
Fondasi kesuksesan ini tak lepas dari sosok Wang Chuanfu, insinyur yang mendirikan BYD sebagai produsen baterai pada 1995 dan sempat memasok komponen untuk Motorola serta Nokia. Titik balik terjadi pada 2003 saat BYD mengakuisisi pabrik mobil milik negara yang bangkrut—langkah yang semula dipandang keliru, namun berangkat dari keyakinan Wang bahwa masa depan otomotif ada di tangan baterai, bukan mesin konvensional.
Dari sana, BYD membangun rantai pasok mandiri, mulai dari produksi cip hingga akses bahan baku litium, yang justru menyelamatkan produksinya saat krisis cip global melanda pada 2021. Strategi kendaraan hybrid plug-in juga membuka pasar di wilayah dengan infrastruktur pengisian daya yang masih terbatas. Puncaknya, pada 2020 BYD memperkenalkan Blade Battery berbasis lithium iron phosphate—diklaim lebih murah, tahan lama, dan lebih aman, hingga membuat Tesla pun ikut memakai baterai BYD untuk sebagian produknya.
Dukungan Negara dan Bayang-Bayang Risiko

Kesuksesan BYD juga tidak lepas dari sokongan pemerintah China dalam bentuk lahan pabrik, pinjaman bank negara, keringanan pajak riset, kontrak publik, hingga subsidi konsumen—sejalan dengan kebijakan industri Made in China 2025 yang menempatkan otomotif sebagai sektor strategis.
Namun jalan BYD tidak sepenuhnya mulus. Laporan GMT Research pada 2025 mempertanyakan besarnya utang perusahaan dan pola pembayaran ke pemasok, ditambah dugaan pencatatan penjualan lewat perusahaan terkait untuk mengejar target. Masalah kualitas produk, penarikan kendaraan dalam jumlah besar, kontroversi kondisi kerja di Brasil, hingga perlambatan laba bersih turut membayangi laju ekspansinya.
Meski begitu, BYD belum berada di ambang kehancuran dan tetap menjadi raksasa kendaraan listrik global. Kisah ini pada akhirnya bukan sekadar tentang satu perusahaan, melainkan cerminan pergeseran kekuatan industri dunia—pertanyaannya kini bukan lagi apakah BYD akan menjadi “Toyota abad ke-21”, melainkan seberapa jauh dominasi lama Detroit, Jerman, dan Tokyo akan tergeser ke pusat industri baru di China.
Raihan Fadli
Redaksi ekonomisia.com menyajikan liputan ekonomi dan bisnis kawasan secara akurat dan berimbang.

Tulis Komentar