RUANG IKLAN β€” 970 x 90
Dunia

Belanda Mengendalikan Air Lewat Polder dan Kincir Angin Warisan Abad 12

Kincir angin dan tanggul menjadi bagian dari sistem Belanda mengendalikan banjir sejak berabad lalu. (Ilustrasi)
Kincir angin dan tanggul menjadi bagian dari sistem Belanda mengendalikan banjir sejak berabad lalu. (Ilustrasi)
RUANG IKLAN β€” 728 x 90

EKONOMISIA.com – Belanda mengendalikan banjir bukan dengan satu formula tunggal, melainkan lewat rangkaian rekayasa yang dirawat dan disempurnakan selama ratusan tahun.

Negeri yang sebagian besar wilayahnya berada di bawah permukaan laut ini justru dikenal dunia sebagai rujukan utama dalam mengelola ancaman air, baik dari laut maupun sungai.

Sekitar 26 persen daratan Belanda berada di bawah permukaan laut, sementara posisi negara ini berhadapan langsung dengan Laut Utara dan menjadi muara tiga sungai besar Eropa: Rhine, Meuse, dan Scheldt. Kota Amsterdam bahkan berdiri sekitar tiga meter di bawah permukaan laut, namun tetap berfungsi normal setiap hari.

RUANG IKLAN β€” 336 x 280

Sebagaimana dikutip dari Sanibiru catatan sejarah pengelolaan air Belanda, kondisi geografis yang serba menantang itu justru mendorong lahirnya sistem pertahanan air yang terus berkembang dari masa ke masa, mulai dari kincir angin tradisional hingga gerbang laut raksasa yang dikendalikan komputer.

Salah satu fondasi utamanya adalah polder, teknik yang mulai dikembangkan sejak abad ke-12. Warga setempat mengeringkan kawasan rawa dengan membangun tanggul, membuat saluran air, lalu memompa air keluar terus-menerus hingga lahan basah berubah menjadi daratan yang bisa ditanami dan dihuni.

Polder dan Kincir Angin: Fondasi Belanda Mengendalikan Banjir Sejak Abad ke-12

Belanda mengendalikan banjir lewat polder, kincir angin, dan Delta Works.
Belanda mengendalikan banjir lewat polder, kincir angin, dan Delta Works.

Melalui cara ini, Belanda berhasil menambah sekitar 7.000 kilometer persegi daratan baru, setara 17 persen dari total luas negaranya.

Namun keberhasilan itu punya harga. Tanah polder yang kaya gambut dan lumpur akan menyusut setelah dikeringkan, ibarat spons basah yang diperas hingga menjadi lebih padat dan turun.

Semakin rendah permukaan tanah, semakin besar pula kebutuhan memompa air keluar secara berkelanjutan. Di titik inilah kincir angin punya peran jauh lebih penting daripada sekadar ikon wisata.

Pada abad ke-17, ribuan kincir angin berfungsi sebagai pompa raksasa yang mengangkat air dari parit rendah menuju kanal yang lebih tinggi, sebelum akhirnya dialirkan ke sungai atau laut. Tanpa mesin bertenaga angin ini, sebagian besar kawasan yang kini menjadi permukiman dan lahan pertanian kemungkinan besar akan kembali terendam.

Belanda kemudian menyadari bahwa pertahanan air tidak bisa berjalan sendiri-sendiri per desa atau wilayah. Banjir besar pada 1916 menjadi pelajaran pahit yang mendorong lahirnya sistem pertahanan yang lebih terintegrasi.

Dari sinilah proyek Zuiderzee digagas, ditandai dengan pembangunan Afsluitdijk, tanggul raksasa sepanjang sekitar 32 kilometer yang rampung pada 1932.

Tanggul ini menutup Zuiderzee dari Laut Utara dan mengubah perairan asin menjadi danau air tawar yang kini dikenal sebagai IJsselmeer, sekaligus melahirkan daratan baru termasuk Provinsi Flevoland.

Delta Works dan Maeslantkering: Benteng Terakhir Belanda Menghadapi Banjir Ekstrem

Suasana Kota Amsterdam yang berdiri sekitar tiga meter di bawah permukaan laut, namun tetap berfungsi normal berkat sistem pengelolaan air yang terintegrasi. (Ilustrasi)
Suasana Kota Amsterdam yang berdiri sekitar tiga meter di bawah permukaan laut, namun tetap berfungsi normal berkat sistem pengelolaan air yang terintegrasi. (Ilustrasi)

Titik balik paling menentukan datang pada 1953, ketika badai laut besar menghantam wilayah Delta dan menewaskan lebih dari 1.800 orang. Tragedi tersebut memicu lahirnya Delta Works, proyek pertahanan air paling ambisius yang pembangunannya memakan waktu hampir 40 tahun.

Proyek ini dirancang bukan hanya untuk banjir rutin, tetapi juga untuk menghadapi peristiwa ekstrem yang jarang terjadi namun berpotensi mematikan.

Bagian paling ikonik dari Delta Works adalah Maeslantkering di Rotterdam, dua lengan baja raksasa sepanjang sekitar 210 meter yang biasanya dibiarkan terbuka agar lalu lintas kapal tetap berjalan.

Begitu sistem mendeteksi potensi badai dan kenaikan air berbahaya, gerbang ini otomatis menutup untuk menghalau air laut masuk ke daratan, lalu kembali dibuka setelah situasi aman.

Cara kerja Maeslantkering menggambarkan filosofi besar Belanda mengendalikan banjir air tidak selalu harus dilawan sepanjang waktu. Ketika kondisi memungkinkan, air dibiarkan mengalir normal; ketika ancaman meningkat, barulah sistem pertahanan ditutup.

Pendekatan serupa juga terlihat dari konsep memberi ruang bagi sungai, yakni menyiapkan area tertentu agar air sungai bisa meluap dengan aman tanpa mengorbankan permukiman warga.

Peta Belanda
Peta Belanda

Keberlanjutan menjadi kunci yang tidak kalah penting. Tanggul, kanal, pompa, pintu air, hingga sistem peringatan dini harus terus dipantau dan dirawat, bukan sekadar dibangun lalu dibiarkan.

Pengelolaan air pun ditetapkan sebagai tanggung jawab bersama lewat lembaga dan aturan yang melibatkan banyak pihak, bukan hanya satu pemerintah daerah.

Bagi Indonesia, khususnya kota-kota pesisir seperti Jakarta, pengalaman panjang Belanda mengendalikan banjir menunjukkan satu hal penting risiko banjir bisa dikendalikan asalkan ditangani secara serius, konsisten, dan tidak setengah hati.

Air memang tidak bisa sepenuhnya dihilangkan, tetapi dampaknya bisa ditekan lewat perencanaan jangka panjang dan investasi infrastruktur yang berkelanjutan.

Bagikan: f 𝕏
RUANG IKLAN β€” 728 x 90
Ditulis oleh

Nadia Ariestya

Redaksi ekonomisia.com menyajikan liputan ekonomi dan bisnis kawasan secara akurat dan berimbang.

Berita Terkait

Tulis Komentar