Restorasi Gurun Kubuqi: Rahasia China Ubah 3 Elemen jadi Ekonomi Hijau
EKONOMISIA.com – Restorasi Gurun Kubuqi di China menjadi salah satu bukti bahwa lahan yang telah lama mengering bukan berarti kehilangan masa depan. Kawasan gurun terbesar ketujuh di China ini, dengan luas lebih dari 7.200 mil persegi di wilayah utara negeri itu, kini berubah menjadi ruang hidup baru lewat kombinasi penghijauan, peternakan, dan energi terbarukan.
Puluhan tahun lalu, Kubuki bukanlah gurun tandus seperti sekarang. Kawasan ini pernah memiliki lahan pertanian, padang rumput, sungai kecil, hingga desa-desa yang ramai. Perubahan lingkungan membuat rumput perlahan menghilang, pasir mulai bergerak menutupi lahan, dan warga satu demi satu meninggalkan kampung halamannya. Musim dingin di sana bisa mencapai minus 20 derajat Celsius disertai angin kencang, sementara musim panas berubah kering dan menyengat.
Sebagaimana dikutip dari data Perserikatan Bangsa-Bangsa yang disebut dalam laporan ZonaFakta, sekitar 41 persen permukaan daratan dunia kini telah berupa gurun, sementara hampir 40 persen wilayah lain berada dalam ancaman desertifikasi. Angka tersebut menjadi gambaran betapa krisis lahan kering bukan hanya persoalan lokal, melainkan tantangan global yang juga dihadapi China lewat kasus Kubuki.
Upaya awal pemerintah China sebenarnya sudah dilakukan sebelum kisah Kubuki dikenal luas. Hutan penahan angin dibangun, penggembalaan dibatasi, dan sumur dalam digali. Namun gurun tetap bergerak maju. Titik balik baru muncul lewat sosok Wang Wenbiao, mantan guru miskin di Inner Mongolia yang setiap hari harus mengayuh sepeda lebih dari 10 kilometer menembus gurun untuk mengajar. Pengalaman itu membuatnya yakin bahwa gurun tak melulu harus dilawan, melainkan bisa dikelola dan dimanfaatkan.
Pohon Willow dan Kelinci Jadi Kunci Restorasi Gurun Kubuqi

Dengan menghabiskan tabungan dan meminjam uang, Wang memulai eksperimen menanam pohon willow dalam skala besar. Pagar penahan angin dibangun, dan jutaan bibit ditanam hingga jumlahnya mencapai ratusan juta pohon yang membentuk dinding hijau sepanjang ribuan kilometer. Akar willow yang menembus tanah dalam membantu menahan pergerakan pasir sekaligus mencari sumber air.
Yang membuat model Kubuki unik adalah keterlibatan kelinci Rex dalam sistem tersebut. Jutaan kelinci dipelihara secara tertutup, menghasilkan daging, bulu, sekaligus kotoran yang kaya nitrogen, fosfor, dan kalium untuk menyuburkan tanah. Kelinci memakan bagian tanaman willow, kotorannya menjadi pupuk alami, dan biji yang ikut terbawa membantu penyebaran vegetasi baru saat musim hujan. Siklus inilah yang perlahan menghidupkan kembali ekosistem yang sebelumnya mati.
Dampaknya terasa hingga ke sisi ekonomi masyarakat. Penduduk yang sempat pergi mulai kembali, dan peternakan kelinci menjadi sumber pendapatan baru yang disebut membantu ribuan keluarga keluar dari kemiskinan.
Energi Surya Melengkapi Ekosistem Gurun Kubuqi
Transformasi Kubuki memasuki babak baru saat energi surya masuk ke tengah gurun. Junma Solar Power Plant, misalnya, memasang 196.000 panel surya yang disusun menyerupai kuda berlari. Selain menghasilkan listrik, panel-panel ini menciptakan area teduh dan mengurangi kecepatan angin, sehingga vegetasi dapat tumbuh di bawahnya. Di sekitar panel, kelinci, domba, dan angsa dilepas untuk memangkas rumput secara alami, memadukan energi bersih dengan pengelolaan lahan.
Dari sinilah Kubuki berkembang menjadi contoh ekonomi ekologi, di mana daging, bulu, pupuk, biogas, pariwisata, dan energi surya saling terkait dalam satu rantai. Populasi rusa liar, rubah gurun, dan burung migrasi disebut kembali meningkat, permukaan air tanah pun membaik dalam beberapa dekade terakhir.

Model ini berbeda dari pengalaman Australia, tempat kelinci Eropa justru menjadi spesies invasif yang merusak padang rumput karena berkembang bebas tanpa kendali. Di Kubuki, kelinci Rex dikelola ketat sebagai bagian dari sistem ekonomi, bukan dilepas ke alam liar.
Meski begitu, sejumlah aktivis lingkungan menilai keberhasilan Kubuki tak bisa hanya dikaitkan dengan kelinci semata, karena perencanaan pemerintah, investasi besar, dan teknologi pengelolaan lahan turut berperan besar. Ada pula kekhawatiran soal penggunaan pupuk organik berlebihan yang berisiko memicu polusi nitrogen dan gangguan kualitas air tanah.
Terlepas dari perdebatan tersebut, restorasi Gurun Kubuki telah diakui secara internasional sebagai model pengendalian desertifikasi. Konsepnya kini menginspirasi wilayah kering lain seperti Andalusia di Spanyol, yang mengembangkan penghijauan, pertanian regeneratif, dan integrasi panel surya dengan lahan pertanian.
Kisah Kubuki menegaskan bahwa pemulihan gurun tak bisa mengandalkan satu solusi tunggal. Pohon, hewan, tanah, energi, dan teknologi harus berjalan sebagai satu sistem, mengubah lahan yang dulu dianggap tanpa masa depan menjadi ruang hidup baru bagi manusia dan alam sekaligus.
Faisal Rahman
Redaksi ekonomisia.com menyajikan liputan ekonomi dan bisnis kawasan secara akurat dan berimbang.

Tulis Komentar